Imlek Sejati Milik Tionghoa Miskin

Gubuk berdinding bilik tipis, beratap rumbia, dengan lantai tanah berukuran 3 x 3 meter itu penuh sesak dihuni keluarga Susanto (35), orang Tionghoa yang bermukim di Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Di dalam gubuk sangat sederhana itu tidak ada pembatas ruangan. Hanya ada sebuah “dapur” di sudut ruangan, sebuah lubang untuk jamban, dan dipan berkasur tipis tempat mereka tidur. Itulah properti milik Susanto yang berkulit gelap akibat terbakar panas Matahari saat mencari nafkah, mengayuh becak.

Susanto hanyalah salah satu warga keturunan Tionghoa yang hidup miskin di sekitar Jakarta. Cina Benteng, mereka biasa disebut. Di kawasan Tanjung Burung dan juga tempat-tempat lain pinggiran Jakarta kini bermukim ribuan warga Tionghoa yang miskin.

Dalam kemiskinan dan kesederhanaan itulah mereka akan “menikmati” malam pergantian tahun dalam sistem penanggalan Cina.

Perayaan Tahun Baru Cina bagi mereka sungguh bersahaja. Cukup pergi ke vihara di kampung bersama ribuan warga Tionghoa miskin lain. Seusai sembahyang di vihara, sering kali disediakan makanan sumbangan. Bersama- sama mereka makan hidangan mewah ala thanksgiving setahun sekali.

Kemiskinan, derita, dan kepapaan, itulah potret ribuan warga Tionghoa miskin di kawasan berjarak tempuh satu jam perjalanan dari Tangerang itu. Hal serupa tergambar di pedalaman Singkawang, Kalimantan Barat, pelosok Bangka-Belitung, pesisir Tanjung Balai, Bagan Siapi-api, hingga Riau. Bekerja serabutan, melakukan pekerjaan kasar, bahkan menjadi buruh tani adalah suratan takdir yang harus mereka jalani.

Demikian pula di sudut Jalan Malioboro, Yogyakarta, setiap hari terlihat warga Tionghoa miskin berjualan intip (kerak nasi) di pinggir jalan. Karena tidak memiliki dapur, mereka menggoreng intip di pinggir jalan yang juga menjadi tempat berjualan.

Seperti Susanto, warga Tionghoa miskin di Yogyakarta, tinggal di perkampungan gubuk papan selebar dua atau tiga meter di belakang Jalan Malioboro yang gemerlap.

Jangankan bicara soal perayaan Imlek, dapat menyambung hidup saja sudah merupakan hal yang mereka syukuri.
Jangankan berbaju baru, untuk menyambung hidup pun mereka hanya bertahan sehari demi sehari.

“Saya menarik becak setiap hari. Penghasilan paling besar Rp 20.000, yang habis untuk makan,” kata Susanto. Dia seorang diri mencari nafkah karena istrinya tidak punya pekerjaan.

Kemiskinan membuat seorang anaknya putus sekolah di usia sekolah lanjutan tingkat pertama. Sedangkan tiga anaknya yang lain masih bersekolah, tetapi juga tidak pasti apakah bisa bertahan. Meski demikian, mereka tetap bersatu sebagai keluarga yang saling menyayangi dalam merayakan Imlek.

MESKI dililit kemiskinan, masyarakat Tionghoa marjinal sungguh menghayati arti perayaan Imlek. Eddy Prabowo Witanto yang lama meneliti masyarakat Tionghoa miskin di Bangka-Belitung, Tangerang, dan Singkawang mengatakan, perayaan Imlek di kawasan tersebut sangat orisinal serta menyentuh perasaan.

“Dalam kemiskinan, sangat terasa suasana kekeluargaan di antara mereka. Pengucapan syukur dalam sembahyang bersama, reuni keluarga, dan menghormati sanak keluarga sungguh dihayati kalangan Tionghoa miskin,” tutur Eddy.

Sebagai contoh, di Dusun Puput, Kecamatan Jebus, Bangka, perayaan Imlek sungguh terasa meski berlangsung dalam kesederhanaan.

Selama dua hari menjelang Tahun Baru, pelbagai adat tradisi betul-betul dilaksanakan masyarakat Tionghoa miskin dengan saksama. Mereka menyapu rumah, memasang kertas merah dengan puisi (duilian), makan malam bersama, dan berbagai tradisi seperti di daratan Tiongkok. Sungguh menarik untuk diikuti meski dilakukan dalam kesederhanaan.
Malam Imlek dilalui dengan perayaan barongsai dan long atau liong dalam dialek Hokkian. Seluruh masyarakat berkumpul dalam perayaan ini termasuk warga Melayu atau Dayak, seperti terjadi di Kalimantan Barat.

Kemudian, acara puncak berlangsung pada hari Tahun Baru, keluarga bersembahyang bersama. Kaum muda berpakaian baru meski bukan busana bermerek, mengucapkan selamat tahun baru kepada orangtua, leluhur, dan sanak keluarga yang lebih tua. Silaturahmi pun berlangsung di tengah jalanan kampung- yang kerap becek akibat hujan pada Tahun Baru Imlek.

Inilah makna Tahun Baru sejati, yakni ritual dan reuni keluarga. Menurut Eddy, jika ingin perayaan Imlek yang sejati, datanglah ke permukiman masyarakat Tionghoa miskin.

Tahun Baru Imlek sejati justru ada di balik kemiskinan dan kesederhanaan. Apalagi, lanjut Eddy, yang meneliti permukiman Tionghoa di Indonesia, 65 hingga 70 persen masyarakat Tionghoa di Indonesia berasal dari kelas marjinal alias miskin papa!

(Iwan Santosa/ Vinsencia Hanny)